Seorang aktivis sebuah NGO internasional bertanya pada teman saya.“Seberapa besar pengaruh preman dalam kehidupan ekonomi-politik di Malang ?”. “Oh ya, tentu saja sangat besar”, jawabnya. “Ruangnya merentang, dari penguasaan lahan parkir sampai gedung parlemen. Ronin-ronin itu harus diakui, turut berinvestasi besar dalam tatatan sosial kita”, teman saya melanjutkan.
Namun, ikatan kelompok mereka sekarang sudah agak begeser. Hubungan antar preman sekarang amat cair. Tergantung job dan order. Beda dengan dulu, pola patron-kliennya masih sangat kuat. Sekarang, siapa punya duit, dia bisa mengumpulkan tukang pukul sebanyak-banyaknya. Terang teman saya lagi.
Meski berbeda karakter, harus diakui bahwa gali, bromocorah, blater, weri, brandal, tukang pukul, jagoan, benggolan, nama lain preman di berbagai daerah, merupakan rangkaian tak terpisahkan dalam sejarah politik kekerasan di nusantara ini. Bahkan eksistensi mereka sudah sangat besar sejak masa pra-kolonial, sejak jaman raja-raja purba dulu. Belajar dari sejarah, “organisasi” preman tidak akan hidup, tanpa ada kemesraan hubungan dengan lembaga kekuasaan resmi.
Saya jadi teringat tulisan Ong Hok Ham, berjudul Peran Jago dalam Sejarah di Kompas tanggal 23 April 1983. Artikel itu sendiri, saya baca lewat buku kumpulan tulisannya, Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong, Refleksi Historis Nusantara.
Waktu Ong menulis esai pendek itu, Indonesia sedang geger besar. Pembunuhan sistematis oleh negara terhadap preman atau yang di tuduh preman, sedang marak terjadi. Saya ingat, beberapa tahun lalu ibu saya pernah menyebutnya petrus. Berasal dari dua kata “penembak” dan “misterius”.
Dalam perjalanan waktu, saya baru tahu ternyata ibu tidak menciptakan akronim tersebut. Itu adalah sebutan umum. Bahkan James T. Siegel juga menyebut kata petrus lewat buku terkenalnya, A New Criminal Type in Jakarta. Menurut Profesor Antropolgi asal Cornell University itu, pada tahun-tahun tersebut, banyak sekali ditemukan mayat orang bertato di mana-mana. Koran setiap hari memberitakan penemuan-penemuan itu. Isinya pun seram-seram.
…Sepuluh lubang peluru yang mengoyak habis tubuh korban ternyata bukan rekor…”Kami juga pernah memeriksa ada 12 peluru bersarang ditubuh seorang korban, dengan lima selongsong peluru di kepalanya”…, (Pos Kota 6 Agustus 1983).
Para korban pembunuhan, waktu itu dikenal dengan nama gali,”gabungan anak liar”. Sebagian besar gali adalah penjahat kelas teri dan anggota geng. Menurut Siegel, banyak dari mereka yang bekerja bagi partai plat merah, Golkar, dalam pemilu satu tahun sebelumnya. Mereka kemudian dicampakkan begitu saja, hingga kembali ke kehidupan semula. Yang tidak diungkap waktu itu adalah, siapa kepala galinya? Dan bagaimana hubungan sang pemimpin dengan pemerintah ?.
Hal yang menarik adalah hampir semua korban memiliki tato. Karena berita koran sangat deskriptif, masyarakat lantas mengidentifikasi kalau gali identik dengan orang bertato. Kadar ini semakin meningkat, bahkan sampai pada titik memiliki tato = gali. Nah, karena saking takutnya, orang-orang yang memiliki tato dengan alasan untuk gaya-gaya-an saja, akhirnya berbondong-bondong datang ke kantor polisi untuk minta perlindungan.
(bersambung)..
paint by: jean michel basquiat. www.villagesavant.com.
Rabu, Mei 28, 2008
Preman Nusantara (1)
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 01.00.00
Sabtu, Mei 24, 2008
Walikota Malang; Pemabuk.
Walikota Malang, Peni Suparto ternyata pemabuk berat. Surya yang semakin kayak koran kuning itu, memberitakannya hari ini (23/05). Meski gosip itu sudah saya dengar agak lama, namun baru kali ini saya membacanya di media massa.
Lebih dari dua teman mengatakan, apa yang ditulis Surya vulgar. Urusan mabuk, kata mereka, masih sangat tabu diungkap secara telanjang di Indonesia. Diksi seperti “Peni dan mbah Karno...sebagai kawan lama yang gemar nenggak minuman keras (miras)….”, bagi mereka dianggap kasar. Apalagi ini menyangkut seorang kepala daerah.
Memang susah, jadi pemimpin. Coba kalau Peni residivis. Persoalan enteng seperti itu, pasti tidak berimplikasi apapun. Kalau dilihat dari latar belakangnya, Peni yang “abangan” itu (menurut klasifikasi Clifford Geertz ), sebenarnya amat lumrah bergaul dengan minuman keras. Tapi ya itu tadi, tidak gampang memang menjadi public figure.
Sebagai perbandingan. Presiden Federasi Autosport Internasional (FIA), Max Moesley akhir-akhir ini, mendapatkan kecaman luas, bahkan tuntutan mundur dari sana-sini, karena video sex-nya bocor. Padahal sex, bagi orang Amerika sudah dianggap bukan masalah besar. Kecuali kalau merugikan orang lain. Misalnya kalau diiringi kekerasan, perkosaan atau melibatkan anak di bawah umur.
Sebelum istighosah dwi mingguan malam ini digelar, seorang teman tertawa terbahak-bahak membaca berita ini. “Masak pemabuk, mau sering mendatangi pengajian-pengajian”, katanya dengan tergelak. Menurutnya, Peni memang berencana akan rutin nyambangi majelis-majelis pengajian, sebagai salah satu bentuk tepe-tepe, sehubungan majunya dia menjadi calon Walikota Malang, periode depan. Saya juga terpingkal. Saya merasa berkewajiban mengapresiasi dagelan.
Jack Daniels by: www.myspace.com
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 00.40.00
Rabu, Mei 21, 2008
Supersemar = SUharto PERsis SEperti MARcos
Lebih tiga tahun lalu, sepintas saya membaca Orde Zonder Order, buku kumpulan tulisan yang membahas praktek kekerasan dan dendam selama Soeharto berkuasa (1965-1998).
Ketika menemukan buku itu kembali, hari ini, di perpustakaan Placid’s Averroes, hati saya sungguh-sungguh bungah.
Saya memang tidak membaca semua karangan di buku editan Frans Husken dan Huub de Jonge tersebut. Namun, saya sungguh terkesan dengan tulisan Jean-Luc Maurer bertajuk “Bermain dengan Kata-Kata ?, Lelucon dan Permainan Kata-Kata sebagai Protes Politik di Indonesia”.
Dalam artikelnya, Profesor Studi Pembangunan dan Politik Asia di Graduate Institute of Development Studies (IUED), Jenewa, Swiss itu, menampilkan banyak bentuk “perlawanan” kata-kata, yang isinya mengejek Soeharto, keluarga dan kroninya. Karena yang diejek adalah penguasa maka guyonannya pun berbau politik. Baik tersurat maupun tersirat. Karena waktu itu Soeharto sangat kuat, tentunya lelucon-lelucon yang bagi saya betul-betul lucu dan kreatif itu, hanya beredar dari mulut ke mulut dan di kalangan tertentu saja. Terutama kelas menengah dan golongan terdidik perkotaan.
Menurut Jean-Luc, semakin represif suatu rezim politik dan hak untuk berbicara semakin dibatasi, maka semakin berkembanglah ejekan-ejekan bawah tanah. Substansi permainanannya berkisar pada cacat, kegagalan, dan kekeliruan pemerintah.
Fakta sejarah mengenai humor kata-kata, di mana-mana menunjukkan hal yang identik. Tidak hanya di Indonesia. Tradisi humor kritik juga pesat di masyarakat Yahudi, saat dan setelah Nazi di puncak. Jumlahnya bahkan mencapai ribuan. Mereka sangat terkenal akan keahlian ini. Lelucon politik juga merambah ke negara-negara bekas komunis otoritarian, seperti Rusia, Republik Ceko, atau Polandia. Yang terakhir ini, malah menganggap lelucon politik layaknya olahraga nasional.
Meminjam terminologi James Scott, praktek-praktek humor politik adalah juga seni perlawananan terhadap dominasi. Sebagai weapon of the weak, senjata orang lemah. Karena bawah tanah, maka makna-makna yang tersimpan dalam transkrip tersembunyi, harus lebih dulu diurai. Dalam konteks ini orang Indonesia yang kreatif-kreatif itu memang jagonya.
Coba saja lihat cerita ini. Seorang lelaki dengan cukup bersemangat bercerita tentang kebijakan Orde Baru di sebuah warung kopi. Ia mengatakan : “Banyak hal baik belakangan dengan pembangunan sekarang ini. Misalnya, kini terdapat cukup banyak dokter gigi yang baik di Indonesia. Namun saya tidak mengerti mengapa semua orang Jakarta yang kaya harus pergi ke Singapura saat memiliki masalah dengan gigi mereka?”. Lelaki yang lain, sedikit lebih skeptis dengan tindakan-tindakan pemerintah manjawab, :”Ya, mudah saja, karena di Jakarta, tidak ada yang berani buka mulut!”…
Lelucon-lelucon seperti di atas sangat banyak dan bertaburan di Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya. Dan tidak hanya masalah pembangunan dan represi politik yang menjadi bahan guyonan. Jean-Luc mencatat, bahwa lelucon-lelucon itu telah merambah ke area keluarga Soeharto dengan sangat sempurna. Contohnya yang ini.
Putri bungsu Soeharto adalah satu-satunya anak Soeharto yang berhasil menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi dari sekolah menengah. Sebagai sarjana IPB, perguruan tinggi yang cukup bergengsi, ia tentu memiliki kadar intelektual lebih daripada kakak-kakak perempuan dan ketiga kakak lelakinya. Tambahan lagi, anak bungsu ini kurang tertarik pada bisnis. Lebih jauh ia seorang pemalu. Hal yang dianggap sebagai kualitas kejawaan. Sebagai mana sebagian besar tanah Austronesia mengenal “budaya malu”.
Suatu ketika Soeharto senang dengan nilai-nilai bagus si bungsu ini, dan mengatakan, “Selamat atas kerja kerasmu. Saya sangat bangga kepadamu. Apa yang kau inginkan sebagai hadiah keberhasilanmu ?”. Ia menjawab, dengan bentuk kesopananan Jawa, “Ah..tidak Pak, terima kasih, saya merasa malu”. Soeharto bersikeras: “ Jangan malu untuk meminta apa saja. Saudara-saudaramu telah mendapatkan banyak dari saya. Kau anak paling pandai dalam keluarga, sekarang giliranmu untuk diberi sesuatu”. Namun ia tetap menjawab:” Tidak, saya malu Pak”. Semakin Soeharto mendesak, semakin ia menjawab:”Malu, Pak. Malu, Pak”. Ibu Tien, yang diam-diam mendengarkan seluruh pembicaraan tersebut, tanpa turut campur sebelumnya, akhirnya menjadi jengkel dan berkata kepadanya :” Berhentilah bersikap konyol !!. Jangan meminta satu-satunya di dunia ini yang tidak dimiliki ayahmu, dan oleh karenanya tidak bisa diberikannya kepadamu !!”.
Selain di atas, banyak humor-humor lain bernada kasar sampai menyerang fisik. Misalnya mendiang ibu Tien yang sering disebut Mrs. Tien Persen (10%), juga di juluki kuda nil karena fisiknya yang gendut. Meski begitu hal itu memiliki makna politis yang dalam. Ini menggambarkan ketidaksukaan sebagian rakyat Indonesia terhadap sosok mantan wanita nomor satu itu, yang sangat tamak dalam berbisnis. Ibu Tien sering disebut sebagai orang paling bertanggungjawab atas gila hartanya anak-anak Soeharto.
Akronim juga menjadi sasaran plesetan. Orang Indonesia, bagi Jean-Luc telah mengembangkan serangkaian humor canggih lewat salah satu ciri khas kebahasaan bangsa ini.
Lihat saja bagaimana Supersemar di plesetkan menjadi dua versi. SUdah PERsis SEperti MARcos dan Suharto Persis SEperti Marcos. RCTI juga memiliki dua versi di antaranya, Raja Cendana Tipu Indonesia, dan ehm..ini lebih sadis, Raja Cendana Turunan Iblis. Produk Jepang juga tidak luput dari incaran. TOSHIBA diartikan sebagai TOmmy-S(H)Igit-BAmbang.
Menteri-menteri, rekan-rekan bisnis Tionghoa, bahkan Parpol juga bisa dipermainkan lewat kata-kata. Harmoko artinya HARi-Hari Omong KOsong. BCA katanya Bank China Asli. PPP menjadi Putra-Putri Presiden.
Selain yang politis, ada juga yang seronok. Seperti merek rokok ARDATH yang dipanjangkan menjadi Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil. Ini lebih eksplisit, KOPAJA menjadi KOntol PAnjang JAya. Yang ini muncul pada tahun-tahun 2000-an semisal GARUDA yang memilki kepanjangan dalam dua versi bahasa Inggris, pertama “Go And Rest Until Delay Announced” (Pergi dan beristirahatlah hingga penundaan di umumkan). Dan “Good And Realible Under Dutch Adminstration” (Lebih baik dan dapat diandalkan di bawah pemerintahan Belanda). Satire dan nakal.
Mengingat Soeharto sering menggunakan kekerasan fisik, hingga burujung pada penculikan jika protes aktivis terlampau keras, seperti peristiwa Malari 1974 atau Tanjung Priok 1984. Penggunaan otak-atik kata yang merupakan senjata simbolik, penting bagi mereka yang selama lebih dari 30 tahun berada dalam posisi lemah dan dilemahkan.
*Caricature by : Time Magazine (1997)
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 11.32.00
Selasa, Mei 20, 2008
Cina-Indonesia
...dengan geram Ong Hok Ham pernah berujar bahwa obsesi elite Indonesia yang bersumber pada hajat kekuasaan, jabatan dan status, segila obsesi orang Cina terhadap uang...
“Tanah kita sudah dikuasai Cina. Air kita diembat pejabat”. Saya terhenyak dengan reportoar penyanyi jalanan tersebut. Bukan karena dalam forum diskusi di Perpustakaan Kota Malang malam itu banyak dihadiri orang. Bukan pula, karena acara tersebut disiarkan langsung oleh RRI. Tetapi karena sebutan bernada tembak langsung buat etnis tertentu, pertama kali saya dengar dalam pertemuan publik.
17.000 lebih pulau milik Indonesia, memang menjadikan negeri ini sangat beragam dan berwarna. Belum lagi ditambah golongan “pendatang” dari daratan Asia Timur Jauh, Timur Tengah bahkan Eropa. Puluhan kali kiranya saya dengar anekdot serta guyonan menunjuk ras tertentu di ruang privat-informal. Tetapi jika itu hadir diruang publik, dengan nada serius pula, saya sungguh kaget. Hanya kaget. Tidak membenarkan, tidak menyalahkan.
Bagaimanapun juga, penyanyi jalanan tersebut, mengalami realitasnya sendiri yang khas. Membikinnya menarik kesimpulan atas apa yang ia lihat, dengar dan rasakan. Sama seperti gugatan mata kanak-kanak saya dulu, ketika banyak orang etnis Cina dikampung, bergelimang harta, karena menguasai hampir semua faktor produksi. Dari toko besar sampai tempat penggilingan padi raksasa. Sedangkan penduduk “asli”, sebagian besar, hidup dalam detak jantung kemiskinan.
Saya tidak tahu pasti mengapa sebagian besar warga keturunan Cina memilih berwiraswasta sebagai pilihan pekerjaan. Namun, dari cerita beberapa kawan, saya angkat topi pada keuletan, etos kerja tinggi dan semangat pantang menyerah yang mereka miliki.
Layaknya kaum minoritas, etnis Cina di Indonesia juga mendapat citra jelek jika sedikit dari mereka berperilaku negatif. Keturunan Yahudi, Italia (Sissilia) atau Irlandia di Amerika, juga mengalami hal serupa. Dari pemberitaan media serta hasil-hasil penelitan dalam dan luar negeri kita bisa membaca bagaimana perangai buruk pengusaha papan atas, semasa orde baru sampai sekarang. Liem Sioe Liong, Bob Hasan atau Tommy Winata, ditulis kerap melakukan perselingkuhan dengan pemerintah serta menghalalkan berbagai macam cara untuk memuluskan bisnisnya.
Tidak saja bidang usaha yang terang tapi juga yang remang-remang, seperti judi, pelacuran dan narkotika. Jangankan mengusut, menindak lalu menangkap. Tentara dan polisi malah menjadi anjing penjaga yang setia bagi kantong-kantong bisnis itu. Kalaupun ada yang kebetulan kepergok, seringkali kasusnya dipeti-eskan.
Dengan geram Ong Hok Ham pernah berujar bahwa obsesi elite Indonesia yang bersumber pada hajat kekuasaan, jabatan dan status, segila obsesi orang Cina terhadap uang.
Saya pernah membaca Tjamboek Berdoeri, tentang pembunuhan besar-besaran orang Cina di Jawa. Sungguh miris dan merobek-robek jiwa. Juga Pram, yang menulis pengusiran besar-besaran banyak orang Cina pada tahun 1950-an dalam “Hoakiau di Indonesia”. Dari Pram saya ambil kesimpulan bahwa kemajemukan bukanlah anugerah. Kadang malah menjadi komoditas politik.
Teman sedaerah di kost bahkan menilai bahwa keturunan Cina bukanlah orang pribumi. Seperti kata Hoakiau, yang berarti perantauan, mereka tidak benar-benar meng-Indonesia. Padahal kebencian teman saya itu tadi, yang mengeras bagai batu, hanya dipicu oleh soal sepele. Problem pribadi. Masalah memori anak-anak dan dipupuk oleh kata-kata ayahnya, yang juga pernah disakiti oleh orang Cina. Soalnya kemudian bukan pada si Aliong dan si A Ling, namun merantak ke semua orang Cina. Muaranya pada tuduhan bahwa orang Cina adalah penyerobot harta orang-orang Jawa, penjajah, maling, sok elite, dst..dst..
Sekolahan di kampung saya, juga menegaskan hal itu. Saya ingat, untuk mencontohkan definisi akulturasi dan asimilasi dalam pelajaran ilmu sosial, guru saya selalu merujuk pada orang Cina-Indonesia. “Mereka adalah contoh golongan yang tidak bisa melakukan asimilasi”, begitu kira-kira kata guru saya.
Padahal kalau merujuk Pram. Diruntut dari rentang sejarahnya, orang Cina di Indonesia, sudah berabad-abad hidup di Nusantara ini. Mereka makan, minum, hidup dan mati di sini. Mereka sudah sama tuanya dengan nenek moyang kita. Bahwa ada dari mereka yang bajingan, orang “lokal” juga banyak yang begitu. Peran beberapa orang Cina dalam berbagai bidang di Republik muda ini, sebetulnya juga sangat besar. Namun seringkali tertutup oleh prasangka dan stigma.
Soalnya kemudian bukan pada orang per-orang namun pada struktur yang melingkupinya. Kalau bajingan-bajingan Cina sekarang berlaku buruk, terutama di bidang perekonomian-perdagangan. Kita juga harus melihat dengan jeli bahwa budaya feodalistik dan paternalistik, yang setia menggelayuti alam pikir birokrasi negara ini, sebenarnya akar yang patut disalahkan dan kudu dirombak total. Karena birokrasi yang korup, akan selalu setia membuka berbagai bentuk penyimpangan.
Selain melakukan rally-rally, pertemuan-pertemuan dan kampanye. Mereka bahkan melakukan langkah sangat berani. Pelaut India mogok, tidak mau melayarkan kapal yang mengangkut senjata api dari Australia menuju Indonesia. Pelaut Cina tidak mau kalah. Mereka mempelopori aksi pengumpulan uang solidaritas di kalangan mereka sendiri. Total 1100 poundsterling terkumpul, murni dari kocek pribadi. Jumlah yang sangat besar waktu itu.
“Pemimpin kami Dr. Sun berkata, penidasan satu bangsa terhadap bangsa lain, harus tumpas dari bumi ini. Perjuangan Indonesia adalah perjuangan kami. Kemenangan Indonesia adalah kemenangan kami”, pekik mereka, disambut tepukan meriah ratusan orang, yang kurang lebih terdiri dari 5 bangsa itu.
Read More......
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 11.20.00
Sabtu, April 26, 2008
Sastrawan Favoritku
Sampai saat ini, merekalah yang menjadi sastrawan inspiratif-ku. Karya yang ku anggap bisa membantu menggapai makna hidup. Bikin sadar, mikir, lantas bertindak...
A. Novelis/ Cerpenis Indonesia
1. Pramoedya A. Toer. Tidak bisa dibantah, ialah raksasa sastra Indonesia. Pencatat sejarah yang tekun. Memasuki tokoh-tokoh Pram, serasa masuk dalam labirin yang menggetarkan. Setting yang dibangun pun luar biasa, mewakili semangat jaman yang tentu saja khas. Yang pasti jauh lebih mengasyikkan ketimbang belajar PSPB. Sejarah ditangan Pram, menjadi sangat manusiawi. "Manusia tidak pernah berubah, yang berubah hanya alatnya"..superb. Favoritku : BUMI MANUSIA+RUMAH KACA, GADIS PANTAI & ARUS BALIK.
2. Ahmad Tohari. Sangat etnografis. Persilangan antara cinta, tradisi dan ambisi. Apalagi settingnya bernada dan berfase kritis. RONGGENG DUKUH PARUK.
3. Kuntowidjoyo. Novelnya tidak sedahsyat cerpen-cerpennya. Dalam sastra koran itu, Kunto dengan jeli melakukan pengamatan pada keseharian yang biasanya luput dari pandangan. Seringkali menampilkan perkelindanan atau hibriditas budaya. BEBERAPA CERPEN DI KOMPAS.
4. Andera Hirata. Tak usah dijelaskan bagaimana mengagumkannya 3 buku itu. Saya sampai menangis dan tertawa bebarengan. Melihat semangat yang tak pernah padam, ditengah kesusahan dan kepedihan yang menghimpit. Inspiratif dan membikin diri malu. TRILOGI LASKAR PELANGI.
5. Pengarang Indonesia lainnya (Seno Gumira Adjidarma, Putu Wijaya & Danarto). Selamat datang di dunia Imaginasi yang liar dan tanpa batas. BEBERAPA KUMPULAN CERPEN.
B. Penulis Puisi.
1. Dorothea Rosa Herliani. Buku Kill The Radio sungguh, sungguh, sungguh luar biasa. Diksinya amat kaya. Bernada kritis. Yang paling penting, menabalkan perempuan dalam spektrum pemberontakan yang pedih namun riang gembira dan tanpa beban.
2. Chairil Anwar. Eksistensi manusia rajin tampil dalam karya2nya. Baginya tak ada orang lain. Tak ada kemapanan. Tak ada penyerahan pada kemunafikan. Semua serba telanjang. Ayoh sadar, sadar, bangkit dan katakan YA pada hidup.
3. Rabindranath Tagore. Everyday i'm in love...bukan hanya cinta lelaki dan perempuan saja. Lebih dari itu ada semacam cinta yang indah pada sesuatu yang bisa kita sebut sebagai Tuhan. Bahkan pada binatang sekalipun. Bagi yang jatuh cinta, membaca Tagore, membuat cinta anda berkali-kali lipat besarnya. Hal yang lebih pragmatis, klo ingin membuat cewek-cewek termehek-mehek buatlah puisi2 yang tagorik. Dijamin, tokcer. He..he..
Pengarang Asing.
1. Eiji Yoshikawa. Ah..Saya menjadi tahu mengapa bangsa Jepang bisa sehebat ini. Pohon dengan akar yang kuat, tidak akan pernah mudah tumbang. TAIKO, MUSHASI



2. Paulo Coelho. Tidak ada yang hitam-putih dalam dunia ini. Semua serba multi perspektif. Bahwa ada area abu-abu, tidak bisa diingkari. Semangat untuk terus menggali pendalaman diri manusia, akan mudah kita temui dalam karya-karya pengarang asal negeri samba ini. ALKEMIS.
3. Umberto Eco. Cocok bagi yang gandrung pada Filsafat bahasa. Empirisme. Teka-teki. Sisi lain sejarah abad pertengahan. Dan aksi-aksi detektif. Kocak dan menegangkan. Juga mencengangkan. Eco, Azzurri Super Jenius. THE NAME OF THE ROSE.
4. John Steinback. Ah mesti endingnya tak terduga-duga. Novelnya sangat sederhana. Tapi hidup ternyata tak sesederhana itu. Steinback, seperti air yang tenang. Hanyut, mengharu-biru, tapi lantas kita seperti diterkam BUAYA. OF MICE AND MAN.
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 04.40.00
Kamis, Januari 24, 2008
Can’t take my eyes of u

Selepas memanjakan mata lewat permainan menawan Persipura, tombol kendali TV jarak jauh akhirnya tertumbuk pada acara musik lagu-lagu lama di stasiun lokal Malang TV. Empat orang pemuda di layar, dengan akustik yang sedikit fals,mendendangkan can’t take my eyes of u. Setting panggungnya sederhana, terlampau sederhana malah. Saya baru sadar. Ternyata, panggung seperti itu tidak hanya ada di TVRI saja,(he..he..). Namun saya tidak berhasrat berganti saluran. Sudah kadung kecantol.
Saya tidak tahu persis siapa yang pertama kali menyanyikan lagu itu. Banyak versi yang berkali-kali mampir di telingga. Dari tempo lembut yang melayang sampai tipe cepat nan gahar. Tetapi ada satu versi yang sampai sekarang masih melekat di kepala, yakni ketika tembang tersebut mampir sebentar di Film The Deer Hunter. Tiga tahun sudah saya tidak menontonnya. Tapi, setiap kali lagu tersebut dibawa angin, selalu potongan adegan film itu yang muncul. Karena efek kuat kenangan, film berbintang antara lain Robert de Niro dan Christhoper Walken tersebut secara otomatis menjadi salah satu favoritku.
Sangat tragik. Sangat menyentuh. Ceritanya tentang empat sekawan pemuda, pekerja kasar pabrik baja, penggemar berburu kijang, yang berpisah karena tiga orang dari mereka harus berangkat perang ke Vietnam. Adegan-adegan gembira mendadak getir. Satu orang mati, karena dipaksa menembak diri sendiri dalam judi russian roullete. Satu orang buntung kaki, padahal masih pengantin baru. Satu orang terakhir mendapati cinta pelik sepulang perang dan akhirnya kesepian.
Bagi saya, sutradara Michel Cimino amat fasih menghadirkan sisi gelap perang Vietnam. Sesuatu yang langka. Karena notabene, kebanyakan film perang Vietnam tahun 1970-an temanya hampir segaram, heroisme Amerika. Tambahan lagi, film ini sangat diluar pakem. Cerita utamanya perang, tetapi lebih dari 1 jam durasinya, isinya ”hanya” drama persahabatan. Sama sekali tidak ada dar der dor-nya. Walau tidak disuguhi banyak darah dan serpah-serpih tubuh, pada saat menjelang film berakhir, saya yang tidak pernah berperang ini, bisa ambil kesimpulan, ah..betapa perang sangatlah pahit. Amit-amit, aksi bunuh-bunuhan massal seperti itu, jangan sampai ada lagi di muka bumi ini.
Oya, lagu can’t take my eyes for u mucul, ketika empat sekawan dari Pennsylvania itu main billiard di salah satu bar murah pinggir kota. Menghibur diri sehabis kerja. Semua orang terbahak, setengah mabuk dan sempoyongan sambil adu keras bersenandung… I love you baby, and if it’s quite allrigt, I need you baby. to warm a lonely night, I love you baby, trust in me when I say…..
*Malang. (Saya lupa tanggalnya).
Sehabis Persipura menghabisi Persik 4-1, di laga lanjutan 8 besar Liga Indonesia.
pict dari : http://www.moodart.co.uk/UploadedFiles/Artwork/De%20Nero%20-%20Deer%20Hunter%20copy.jpg
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 03.46.00
Selasa, Januari 22, 2008
Takut

Adakah manusia yang tak mengenal rasa takut. Saya kira tidak ada. Karena sebetulnya manusia itu makhluk yang teramat lemah.
Orang sekuat, setrengginas samurai jalanan Miyamoto Mushashi-pun bergidik luar biasa jika cinta mulai menghampiri jiwanya. Kalau dipersempit lagi ia sebenarnya takut terhadap wanita.
Orang Jepang yang hidup semasa dinasti Tokugawa itu merasa tatapan wanita, lebih tajam dari pedang manapun yanng pernah ia temui. Tusukannya melebihi rasa sakit akibat kibasan dan goresan senjata rantai bergerigi pisau, yang sering mendarat ke jantung lapisan kulit serta menembus dagingnya. Mata wanita, dalam benak Mushahi, meminjam larik penyair Dorothea Rosa Herliani, bagaikan pemburu terik paling laknat. Ironis, jika melihat sepak terjang sang perkasa Mushashi, yang pada masa lalunya enteng membunuhi puluhan orang, dalam duel berdarah medan perang akbar Sekigahara, maupun dalam berbagai aksi pengeroyokan dan aksi tarung satu lawan satu. Meskipun toh akhirnya, pemuda dari Miyamoto itu jatuh cinta juga pada Otsu, seorang gadis sekampung yang sedari awal mengaguminya, proses “penyembuhan” itu memakan waktu sampai bertahun-tahun.
Mushahi juga gusar jika sepi mulai menghampiri. Untuk yang terakhir ini bisa jadi setiap manusia pernah mengalami. Meski dengan kadar berbeda-beda. Seceria apapun, seorang anak manusia akan terkatup jika tidak ada partner bicara, baik material maupun metafisik. Bayangkan, betapa hampa jika setiap kali kita harus berbicara pada bayang-bayang diri sendiri. Manusia oleh karena itu selalu menginginkan kerumunan, atau kalau tidak ia akan terus berkabung.
Saya kira, hal jamak bahwa ketakutan manusia beraneka rupa. Ia tidak mengenal jenis kelamin dan umur. Ada yang laten ada pula yang kondisional. Seorang teman-sebagai contoh-bisa melemparkan segulung koran yang ia baca sekuat tenaga, sambil menjerit tertahan, ketika gambar ular tanpa sengaja bertumbuk dengan matanya. “Rasanya sampai menohok ulu hati”, akunya. “Bulu kuduk menyelinap ke sekujur tubuh”. Teman saya itu sangat takut terhadap ular. Meski hanya berupa gambar, atau patung, atau foto, atau kartun anak-anak-yang sebenarnya lucu. Fairouz, teman saya yang lain, resah luar biasa jika derit suara mengendap di genting rumah sewaktu malam. Ia menjadi gelisah, jangan-jangan itu maling. Dulu, sewaktu kontrakannya belum disatroni pencuri yang menyikat seunit CPU komputer, suara-suara yang setiap kali hadir disela-sela tidur dianggapnya enteng. “Ah mungkin hanya suara kucing”, pikirnya. Alhasil, kini ia selalu ditemani sebatang celurit tajam disamping kasur. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk menenangkan batin dan merasa aman sewaktu tidur.
Kalau diingat-ingat saya punya banyak teman yang mengalami katakutan “aneh-aneh”. Semacam phobia. Ada yang menjerit-jerit histeris jika sebuah saja karet gelang dihadapannya. Ada pula yang blingsatan kalau bertemu dengan peniti.
Saya sendiri paling takut ketinggian. Saya tidak bisa melupakan dua jam sepuluh menit itu, sewaktu terbang pergi-pulang Surabaya-Jakarta, beberapa bulan lampau. Rasanya ingin jatuh saja. Badan menggigil. Keringat mengucur deras dari berbagai sudut tubuh, dari setiap bagian seperempat juta sel penghasil kelenjar tiroid itu. Sepanjang perjalanan saya tidak berhenti berpegangan pada tangan kursi. Kalau bukan karena teman sebelah yang terus saja bercerita dan karena kebetulan pesawat tersebut memiliki track record bagus, saya mungkin sudah pingsan.
Jelas ini ada hubungannya dengan kenangan. Kadang kenangan yang menyakitkan dan dibumbui berjajarnya derak-derak fantasi membuat kita trauma. Takut pada ular, maling, karet gelang dan peniti atau yang saya punya, ketinggian, adalah bagian dari sakitnya kenangan yang terus menerus dipelihara memori otak. Betapa sulit menghancurkan bejana kenangan buruk. Kalau kegembiraan yang membuncah begitu mudah menguap, tidak demikian dengan kesedihan akut. Ia akan terus menempel sampai kapanpun. Terutama jika itu dialami bebarengan dengan masa kanak-kanak.
Masih segar tergambar bagaimana Agung, sambil berjongkok, muntah berat di hadapan saya. Wajah kuning langsatnya menjadi merah pucat. Tengkuknya mendadak lemah, tak kuat berdiri untuk beberapa saat. Mata sayunya seolah mengatakan ia tidak sanggup lagi pulang. Karena tubuh sahabat SD saya itu tidak bisa lagi meniti daki keletihan tak terperi. Saya sedih, mengapa wahana permainan pasar malam itu, yang seharusnya membikin tertawa malah membuatnya limbung. Tetapi saya lebih sedih lagi mengapa orang-orang disekeliling menertawakan sahabat saya itu. “Masak anak lelaki begitu saja muntah, ha..ha..ha..kacangan”, tawa beberapa lelaki dewasa disekitar pecah berderai-derai, seolah habis melihat humor paling lucu tahun itu. Memangnya kalau lelaki tidak boleh lemah, tidak boleh sakit, tidak boleh rentan dan libung. Omong kosong apalagi ini.
Wahana pasar malam itu bernama Ombak Laut. Kami menyebutnya begitu. Bentuknya sangat sederhana. Lingkaran kayu itu berupa tempat duduk panjang. Porosnya adalah batang besi tegak. Kumparan di atasnya membuat lingkaran itu bisa bergerak memutar, naik dan turun, bergelombang mirip ombak. Alat itu digerakkan secara manual. Petugas pasar malam, seolah tanpa lelah, terus menggenjot serta memutar kayu itu sepanjang malam. Sesekali sambil berlari. Karena manual, itu menjadi tidak konstan. Kebetulan ketika Agung ikut serta, putaran sungguh kencang, Ombak Laut-pun mengawang terbawa angin ke atas-ke bawah. Air muka agung pucat. Ingin segera mengakhiri permaian. Tetapi ombak laut belum bisa berhenti. Beberapa lelaki dewasa menggaungkan koor “teruuuussss…teruuuussss”. Masak sudah beli tiket “mahal-mahal” mainnya hanya sebentar.
Setelah kejadian itu, sampai sekarang, saya tidak akan pernah berani-berani mencoba permainan yang melibatkan ketinggian apalagi kalau ditambah kecepatan. Bahkan saya-pun tidak berani naik komidi putar. Entah sampai kapan.
Dan saya tidak peduli dengan deretan kata-kata “penakut, bencong, upil” yang sebetulnya menyakiti nurani itu, ketika saya bersikeras menolak berpartisipasi pada salah satu wahana permainan Jatim Park tempo hari. Saya juga toh tidak harus membuktikan apa-apa. Bahkan ketika salah seorang perempuan aktivis studi gender, mengolok dengan kata looser, loooser berkali-kali, saya hanya tertawa dalam hati, aktivis feminis koq seksis. Penolakan tersebut berarti juga, lelaki seperti saya tidak boleh takut pada permainan “ecek-ecek” jenis itu. Ternyata lelaki seperti saya juga bisa menjadi korban diskriminasi, tidak hanya perempuan, anak kecil ataupun orang berkulit hitam.
Maaf. Saya tidak kuasa melawan rasa takut itu. Tak bisa pula mengahapus mencekamnya bayang nanar wajah Agung dari benak.
pict lukisan van gogh diambil dari:www.penwith.co.uk/artofeurope/van_gogh.htm
pict big wave dari : www.dg58.dupage.k12.il.us/.../catchawave.htm
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 23.57.00
Selasa, Januari 15, 2008
Profesor Telo
Yang jelas saya merasa muak dengan tingkah, kata dan polah ketua jurusan itu. Seorang profesor, lulusan ‘londo’, yang selalu menggunakan kata2 normatif,mengatasnamakan rakyat miskin dan tertindas, mengatasnamakan mahasiswa… kadang dengan bahasa inggris…pada seminar2, pertemuan “ilmiah” dan bahkan ujian terbuka doktoral yang dingin dan kaku…namun begitu pongah dan angkuh dalam masyarakat kecilnya, kampus. Apalagi pada lingkungan sosialnya?
Ia, sang guru besar namun bernurani kecil itu, mungkin menganggap pendidikan yang didapatnya adalah segalanya, mungkin juga tidak sadar bahwa pendidikan itu berpotensi untuk menjajah. Mungkin juga baginya pendidikan bukan alat mensensitifkan jiwa, mempertebal empati, tapi jadi alat ekonomi, yang berujung pada peningkatan status, pangkat, strata sosial. Merasa sok berkuasa, sambil ongkang-ongkang kaki menikmati nikmat legitnya “jabatan profesor”.
Aku tambah muak, hampir muntah, melihatnya telah jauh dari realitas dan menanam saham jumlah besar untuk menebalkan mitos menara gading bagi perguruan tinggi, institusinya.
Ironis, jika ingat pada sumpah-sumpah jabatan, yang bisa jadi dilakoninya dengan khidmat, ia selalu menyebut “tridharma perguruan tinggi” seolah menyebutnya sebagai kata suci, sebagai mantra sakti..
Ah…muntahku tercecer dilantai!!
Malang, Siang bolong, 25 Juli 2007
Lantai 2 pengajaran, FIA,
Saat menunggu “dengan sabar” ketidakbecusan kerja adiminstratif staff pengajaran.
Read More......
DiSemai Oleh Ainur Rohman di Rimba Raya 12.32.00